Sunday, September 8, 2019

SOTERIOLOGI


 IMAN YANG MENYELAMATKAN
 “Jadi apakah akan kita katakan tentang Abraham, bapa leluhur jasmani kita? Sebab jikalau Abraham dibenarkan karena perbuatannya, maka ia beroleh dasar untuk bermegah, tetapi tidak di hadapan Allah. Sebab apakah dikatakan nas Kitab Suci? “Lalu percayalah Abraham kepada Tuhan, dan Tuhan memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.” Kalau ada orang yang bekerja, upahnya tidak diperhitungkan sebagai hadiah, tetapi sebagai haknya. Tetapi kalau ada orang yang tidak bekerja, namun percaya kepada Dia yang membenarkan orang durhaka, imannya diperhitungkan menjadi kebenaran” (Romans 4:1-5).


  1. SESUNGGUHNYA MANUSIA TIDAK DAPAT DISELAMATKAN OLEH KEBENARANNYA SENDIRI


Namun, Rasul Paulus berbicara dengan terus terang kepada mereka bahwa  manusia tidak dapat diselamatkan dengan semua itu, ada cara lain agar manusia dapat diselamatkan, karena tak seorangpun dapat dibenarkan di hadapan Allah dengan kesucian dan perbuatan baiknya sendiri, karena sesunggugnya manusia tidak dapat mencapai kesucian dan kebajikan menurut standard Tuhan. Untuk mengilustrasikan kebenaran ini Paulus memberikan contoh tokoh besar dalam Alkitab yang ia kenal, yaitu Abraham, sahabat Allah, bapa dari semua orang beriman, dan bapa dari bangsa Israel.
Dan Paulus menulis, “Sebab jikalau Abraham dibenarkan karena perbuatannya, maka ia beroleh dasar untuk bermegah, tetapi tidak di hadapan Allah,” karena Allah mengenal dia.  Abraham dapat menyombongkan diri di hadapan kita. Ia dapat menyombongkan diri di hadapan teman-temannya dan semua orang yang ia kenal, namun ia tidak dapat menyombongkan diri di hadapan Allah. Allah mengenal betul kehidupannya secara intim. Lihatlah bahkan perbuatan baik dari orang kudus terbesar ini pun tidak dapat membuatnya berkenan di hadapan Allah, sehingga berdasarkan itu Allah harus menyelamatkannya.

Sebagai contoh dalam Kejadian 12 diceritakan tentang Abraham ketika ia berbohong kepada Firaun berhubungan dengan Sara, istrinya. Empat pasal berikutnya, dalam kejadian 16 diceritakan bahwa Abraham menikahi Hagar, budaknya yang dibawa dari Mesir. Dan dari hubungan ini melahirkan Ismael, pendiri dari bangsa- bangsa Arab. Kemudian, empat pasal berikutnya diceritakan kisah tentang Abraham yang berbohong lagi kepada Abimelekh berhubungan dengan Sara, istrinya. Jika Abraham dibenarkan oleh perbuatan-perbuatannya, ia dapat memuliakan dirinya sendiri dan membual: “Lihatlah aku. Aku yang telah melakukan semuanya ini.” Namun, Paulus berkata, “Tidak di hadapan Allah.” Allah mengenal Abraham dengan baik. Ia mengetahui semua kelemahan dan pelanggaran-pelanggaran dan kesalahan-kesalahan serta semua kegagalan hidupnya. Perhatikan, bahkan Abraham, tokoh terbesar ini pun tidak dapat berkenan di hadapan Allah dengan usahanya sendiri.
Oleh sebab itu Rasul Paulus berbicara dengan terus terang bahwa harus ada jalan lain agar manusia dapat diselamatkan. Dan ia menemukan jawaban bagaimana Abraham diselamatkan. Dalam Kejadian 15:6 dikatakan, “Lalu percayalah Abram kepada TUHAN, maka TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.” Ia diselamatkan di dalam anugerah dan rahmat Tuhan. Ia diselamatkan oleh karena ia percaya kepada Tuhan. 


2. KESELAMATAN HANYA OLEH KARENA IMAN DI DALAM KRISTUS

Seperti Rasul Paulus menuliskan ini dalam Roma pasal empat, “Tetapi terhadap janji Allah ia tidak bimbang karena ketidakpercayaan, malah ia diperkuat dalam imannya dan ia memuliakan Allah” (Roma 4:20) – ia tidak memuliakan dirinya sendiri, tetapi ia memuliakan Allah, dan tanpa bimbang ia mempercayai apa yang Allah telah janjikan kepadanya, dan malah ia diperkuat dalam imannya, dan oleh imannya itu, kebenaran diimputasikan kepadanya. Kebenaran yang ia kenakan bukanlah kebenarannya sendiri, bukan kebenaran yang ia usahakan sendiri, tetapi itu adalah kebenaran Allah yang diimputasikan atau dikenakan kepadanya oleh karena imannya: yaitu bahwa dia diselamatkan oleh iman, oleh karena percaya. Dan imannya diperhitungkan sebagai kebenaran, dan dia diselamatkan di dalam anugerah dan pengampunan Allah.
Demikian juga Rasul Paulus berkata terus terang kepada kita. Kita tidak dapat diselamatkan dengan usaha kita sendiri atau membayar hutang dengan perbuatan-perbuatan kebajikan dan kebenaran kita sendiri, karena sesungguhnya kita tidak akan pernah dapat memenuhi standard kebajikan dan kebenaran yang dituntut oleh Tuhan. Kita bukanlah orang suci, bukanlah orang baik, bukanlah orang benar.
Tuhan menuntut kesempurnaan jika kita mau masuk ke kota suci nan indah, yaitu sorga dan memandang wajah-Nya. Namun, jika kita pernah melakukan pelanggaran dan dosa di suatu waktu dalam hidup kita, kita sudah kehilangan kesempurnaan itu. Yakobus, saudara Tuhan Yesus, yang menjadi gembala di Yerusalem menuliskan itu di dalam suratnya, yaitu Yakobus 2:10: “Sebab barangsiapa menuruti seluruh hukum itu, tetapi mengabaikan satu bagian dari padanya, ia bersalah terhadap seluruhnya.” Ia telah bersalah terhadap seluruhnya, artinya ia kehilangan dan tidak akan mencapai kesempurnaannya.
Ini sama seperti lampu atau kandil yang digantung pada rantai. Anda tidak perlu memutuskan setiap mata rantai. Jika Anda memutuskan salah satu mata rantai saja, maka lampu itu akan jatuh dan hancur. Demikian juga dengan hidup kita. Kita dapat hidup benar dan suci dalam setiap area hidup kita, namun jika kita berdosa, kita telah berada di bawah penghukuman maut: “Jiwa yang berdosa pastilah mati,” dan “upah dosa adalah maut.” Rasul ini berkata terus terang bahwa tak seorangpun yang dapat dibenarkan – diperhitungkan benar, dapat diselamatkan dengan pencapaian pekerjaan atau perbuatan kebajikannya sendiri.
Ada orang yang sangat kuat di kota ini. Ia mampu menghancurkan hidup orang lain berkeping-keping.

Saya pergi menemui dia dan mengundang dia untuk memberi diri dilahirbarukan di dalam Kristus Tuhan kita, dan menemukan kekuatan di dalam Dia.
Ia menjawab saya, “Saya dapat menolong diri saya sendiri. Saya tidak perlu Tuhan, dan saya tidak membutuhkan Kristus, dan saya tidak membutuhkan gereja. Saya akan menemukan jawaban di dalam diri saya sendiri.” Akhirnya, ia menyerahkan dirinya sendiri untuk minuman keras, dan akhirnya ia mati bunuh diri.
Tak seorangpun, sekalipun ia mungkin orang yang kuat, yang mampu menghadapi penghakiman. Apa yang ia dapat lakukan pada hari kematiannya? Dan apa yang ia dapat lakukan ketika ia berdiri di depan tahta pengadilan Allah yang Mahatinggi?  Seperti Yesaya berkata, bahwa kebenaran kita adalah “seperti kain kotor” atau “kain lap yang dekil” dalam pemandangan Allah (Yesaya 64:6).
Harus ada cara lain agar kita dapat diselamatkan, dan cara atau jalan keselamatan itu dapat kita atau Abraham temukan melalui percaya kepada Tuhan. Ia percaya kepada Tuhan. Ia menghempaskan dirinya sendiri ke atas rahmat Allah, dan Allah menyelamatkan dia oleh anugerah, oleh karena iman, oleh karena percaya.
Allah memperhitungkan imannya sebagai kekudusan, kebenaran, dan oleh anugerah kita semua diselamatkan melalui iman dan bukan kebenaran atau usaha kita sendiri. Itu adalah karunia atau pemberian Allah, bukan hasil pekerjaan kita, sehingga tak seorangpun dapat berkata atau membual, “Aku telah melakukan semua itu” dan memuliakan dirinya sendiri.
Dan Rasul Paulus menulis bahwa pengampunan, rahmat itu, anugerah itu ditemukan dan didasarkan dalam kasih dan rahmat penebusan Yesus Kristus, Tuhan kita. Ia menulis dalam Roma pasal 5:
Karena waktu kita masih lemah, Kristus telah mati untuk kita orang-orang durhaka pada waktu yang ditentukan oleh Allah. Sebab tidak mudah seorang mau mati untuk orang yang benar—tetapi mungkin untuk orang yang baik ada orang yang berani mati—. Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa. Lebih-lebih, karena kita sekarang telah dibenarkan oleh darah-Nya…(Roma 5:6-9)
Di dalam rahmat dan kematian serta penderitaan Tuhan kita, kita akan diselamatkan melalui Dia, kita diperdamaikan dengan Allah melalui kematian-Nya, kita diselamatkan oleh hidup-Nya yang telah bangkit dari antara orang mati dan pelayanan-Nya sebagai perantara untuk kita dalam kemuliaan. Oleh Dia kita sekarang telah menerima penebusan atas dosa-dosa kita. Bukan lagi “aku.” Tetapi “Dia.” Bukan karena kekuatanku, tetapi di dalam Dia aku diselamatkan melalui percaya, menyerahkan hidupku kepada Dia, menerima dan memandang Dia. Kita diselamatkan oleh karena apa yang Yesus telah lakukan bagi kita!
Paulus menulis surat polemik kepada jemaat-jemaat di Galatia. Mereka telah menemukan keselamatan melalui percaya di dalam Kristus. Mereka telah menerima Roh Kudus, melalui percaya di dalam Yesus. Dan mereka telah hidup dalam hadirat Anak Allah.  Kemudian datanglah orang-orang Yahudi yang berkata kepada mereka, “Baiklah oleh iman. Baiklah oleh karena percaya. Namun kalian tidak dapat diselamatkan hanya oleh iman dan percaya itu. Jika kalian ingin diselamatkan, kalian dapat diselamatkan melalui memelihara dan melakukan hukum Taurat, melaksanakan berbagai aturan, ritual dan seremonial dari Taurat.”
Oleh karena itu lah, maka Paulus menulis surat yang polemik ini kepada orang-orang Galatia itu. Itu adalah surat yang sangat keras.  Dan dengan hanya satu hentakan saja, Rasul Paulus menyapu semua konsep keselamatan yang diduga merupakan hasil dari ketaatan terhadap Taurat atau legalism atau oleh usaha manusia atau oleh karena memelihara upacara-upacara lahiriah atau seremonial lahiriah. Jika manusia diselamatkan, itu hanya oleh karena kasih dan anugerah serta rahmat Yesus Kristus “yang mengasihi saya dan memberikan nyawa- Nya sendiri sebagai tebusan bagi saya.”

Ketika saya membaca Kitab Suci, ada banyak bukti dalam lembaran-lembaran suci ini ketika saya mempelajari dan berusaha memahami pikiran dan rencana Allah bagi kita. Manusia dapat berdoa dan berdoa di sepanjang hidupnya. Namun ketika ia mati, ia masih terhilang. Dalam Matius enam, catatan tentang Khotbah di Bukit, Tuhan mendeskripsikan orang-orang seperti orang Farisi yang suka berdiri di sudut-sudut jalan dan semua orang melihat mereka sedang berdoa. Dan dalam Injil yang sama ini, Tuhan  kita mendeskripsikan orang-orang Farisi yang masuk ke dalam rumah ibadat kemudian berdoa dan mengucap syukur kepada Allah atas semua ketaatannya terhadap semua perintah Allah dalam hidupnya. Dan pada saat yang sama Tuhan juga menceritakan seorang pemungut cukai, orang berdosa, yang pada waktu itu juga sedang berdoa, yang bahkan tidak berani mengangkat wajahnya kepada Allah, namun ia memukul-mukul dadanya dan berkata, ‘Tuhan, ampunilah aku, orang berdosa ini.”
Dan Tuhan berkata, “Orang ini – pemungut cukai yang berdosa ini, pulang ke rumahnya dengan membawa pembenaran – ia dipandang benar oleh Allah, karena ia menyerahkan jiwanya di dalam iman dan percaya kepada Tuhan yang dapat menyelamatkan dia.”
Ambilah Alkitab anda dan mari lihat orang-orang baik yang menghadap Tuhan dan rasul-rasul-Nya. Nikodemus adalah orang baik. Ia adalah anggota dari Sanhedrin. Ia adalah pemimpin bangsa Yahudi. Namun Tuhan berkata kepada dia, “Jika kamu tidak dilahirkan kembali, kamu tidak akan dapat masuk ke dalam kerajaan Allah.”
Kisah Rasul pasal sepuluh menggambarkan Kornelius sebagai orang yang saleh dan takut akan Tuhan dan senantiasa berdoa kepada Allah. Namun seorang malaikat datang kepadanya dan berkata, “Suruhlah beberapa orang ke Yope untuk menjemput seorang yang bernama Simon dan yang disebut Petrus. Ia menumpang di rumah seorang penyamak kulit yang bernama Simon,” untuk menjelaskan bagaimana dia dan keluarganya dapat diselamatkan.
Saya tidak dapat diselamatkan oleh karena kebenaran dan kebajikan saya sendiri. Saya begitu kecil dan kotor di hadapan kemuliaan Allah. Saya harus menghempaskan diri saya sendiri ke atas rahmat Yesus. Dan hanya oleh Dia, hanya Dia sajalah yang dapat memperbaharui dan mengampuni serta menyelamatkan saya.


3. TIDAK ADA CARA LAIN  UNTUK DAPAT DISELAMATKAN SELAIN HANYA MELALUI IMAN DI DALAM KRISTUS

Paulus berbicara dengan terus terang bahwa selain percaya kepada Yesus tidak ada apapun yang dapat kita lakukan. Saya tidak diselamatkan oleh Yesus ditambah dengan kebenaran saya sendiri atau perbuatan baik yang saya lakukan. Saya tidak diselamatkan oleh Yesus ditambah dengan seremonial-seremonial atau ibadah yang saya pelihara dan jalankan. Saya tidak diselamatkan oleh Yesus ditambah dengan baptisan saya, atau percaya Yesus ditambah dengan memelihara hari Sabat, atau saya tidak diselamatkan oleh Yesus ditambah dengan tangisan dan penyesalan saya. Saya tidak diselamatkan oleh apapun kecuali hanya oleh Yesus saja – hanya oleh Yesus, Yesus secara eksklusif, Yesus untuk selama-lamanya, Yesus satu-satunya.
Dan ketika saya berdiri di hadapan Yang Mahatinggi di sorga, inilah lagu yang akan saya nyanyikan, “Segala kemuliaan hanya bagi Anak Domba. Segala kemuliaan hanya bagi Kristus yang telah menyucikan kita dari dosa-dosa kita di dalam darah-Nya sendiri. Bagi Dia kemuliaan dan hormat dan kuasa sampai selama- lamanya dan selama-lamanya. Amin.”

Tuhan Yesus Memberkati 🙏


No comments:

Post a Comment

KEKUDUSAN

    (IMAMAT 20 : 7) : “Maka kamu harus menguduskan dirimu, dan kuduslah kamu, Sebab Akulah Tuhan Allahmu. Konteks Historis Ayat ini memiliki...