Thursday, September 12, 2019

SSIFAT-SIFAT ALKITAB


ALKITAB
Alkitab berotoritas mutlak dan merupakan satu-satunya standar untuk mengevaluasi serta memahami segala sesuatu (2 Timotius 3:16-17). Alkitab berdiri sebagai hakim dari segala sesuatu dan tidak pernah dihakimi oleh sumber lain apa pun. Mengapa demikian? Jawabannya, karena Alkitab merupakan firman Allah, maka tidak mungkin ada otoritas lain yang lebih tinggi dari itu. Secara sederhana dapat ditegaskan bahwa Alkitab harus dipercaya dan diikuti karena Alkitab merupakan firman Tuhan yang mutlak atau benar. Alkitab adalah satu-satunya otoritas di dalam setiap bidang kehidupan. Berikut ini fakta-fakta mengenai keautentikan wahyu Allah.
A. Kewibawaan (Authority)
            Seluruh Alkitab adalah firman Allah; tidak memercayai atau menaati Alkitab berarti tidak percaya atau tidak taat kepada Allah. Dengan kata lain, Alkitab memegang otoritas tertinggi dan terakhir terhadap iman dan kehidupan orang percaya karena Alkitab adalah firman yang datang dari Allah sendiri.
1. Bukti-Bukti Kewibawaan Alkitab
            Pada banyak bagian dalam Alkitab dikatakan, "Demikianlah firman Tuhan...." Bentuk kalimat ini dalam Perjanjian Lama identik dengan bentuk kalimat, "Demikian kata Raja...." yang berarti suatu titah yang datang dari pemilik kekuasaan/otoritas tertinggi (raja) dan tidak dapat diganggu gugat, harus dilakukan dan dilaksanakan (misalnya: Bilangan 22:38; Ulangan 18:18-20; Yeremia 1:9). Dalam Perjanjian Baru, ada beberapa ayat yang jelas sekali menunjukkan bahwa tulisan dalam Perjanjian Lama adalah firman Allah (misalnya: 1 Timotius 3:16; 2 Petrus 1:21). Dalam Perjanjian Baru juga terdapat ayat-ayat yang menunjukkan bahwa tulisan dalam Perjanjian Baru adalah firman Allah (misalnya: 2 Petrus 3:16; 1 Timotius 5:18; 1 Korintus 14:37; Yohanes 14:26; 16:13).
2. Penerimaan Terhadap Kewibawaan (Otoritas) Alkitab
            Penerimaan orang percaya terhadap Alkitab sebagai firman Allah adalah dari keyakinan, yang diberikan oleh Roh Kudus, di dalam hati manusia yang sudah diperbarui. Dengan demikian, penerimaan akan kewibawaan (otoritas) Alkitab dalam kehidupan orang percaya adalah karena iman, bukan datang dari manusia itu sendiri (bdk. 1 Korintus 2:13-14; Yohanes 10:27).

B. Ineransi (Ketidakbersalahan Alkitab)

1. Pengertian/Definisi
            Secara umum, "ineransi" diartikan bahwa Alkitab (PL dan PB) adalah seluruhnya firman Allah yang ditulis tanpa kesalahan pada naskah aslinya. Istilah "ineransi" sering kali dicampuradukkan dengan istilah "Infalabiliti", yang memiliki arti bahwa Alkitab tidak mungkin menyesatkan karena semua ajarannya adalah kebenaran (tidak melawan ajaran moral). Sedangkan, penekanan "ineransi" adalah kualitas bebas kesalahan tulisan dan data yang ada di dalam Alkitab. Doktrin tentang ketidakbersalahan Alkitab sangat penting sebab akan memengaruhi doktrin yang lain dan etika Kristen. Misalnya, dalam hal doktrin tentang dosa, penciptaan, Allah, mukjizat, dan keselamatan. Pandangan tentang ineransi Alkitab juga akan menentukan pandangan seseorang tentang etika, perkawinan, dsb..
2. Pentingnya Ineransi
            Sangat penting bagi orang Kristen untuk memegang kepercayaan bahwa Alkitab seluruhnya adalah tidak salah karena Alkitab adalah firman yang datang dari Allah sendiri, yang adalah sempurna dan tidak berdusta. Jika kita tidak memercayai ketidakbersalahan Alkitab, maka kewibawaan Alkitab pun sulit dipertahankan karena berarti kita tidak dapat sepenuhnya memercayai Allah.
3. Dasar Penerimaan Ineransi
Penerimaan "ineransi" bukan berdasarkan pada kemampuan manusia dalam menilai Alkitab, namun berdasarkan keyakinan bahwa:
a. Allah adalah kebenaran. Oleh karena itu, segala sesuatu yang difirmankan Allah adalah benar.
b. Allah tidak pernah berdusta. Jadi, apa yang dikatakan-Nya pasti benar. (Ibrani 6:18; 2 Timotius 2:13).
c. Alkitab sendiri menyebut diri-Nya sempurna (Mazmur 19:8), murni (Mazmur 19:9), tepat (Mazmur 19:9), benar (Mazmur 119:43), dan kekal (Mazmur 119:89; Matius 24:34).
d. Roh Kudus memberikan pengawasan penuh kepada para penulisnya, sehingga mereka menuliskannya dengan benar, tanpa kesalahan.
e. Ukuran kebenaran Alkitab adalah "arasional". Akal manusia bukanlah standar ukuran yang dipakai.
4. Bagaimana Jika Naskah Asli Alkitab Sudah Tidak Ada?
            Memang diakui bahwa kita sudah tidak lagi memiliki naskah asli Alkitab. Yang ada hanyalah salinan aslinya. Penyataan asli tertulis memiliki tiga kategori.
a. Penyataan asli (bukan salinan) yang telah selesai ditulis seluruhnya.
b. Penyataan salinan yang ditulis kembali sesuai dengan aslinya (disebut salinan asli).
c. Alkitab, secara kanon, merupakan kesatuan organisasi yang tidak dapat diambil dari konteks keseluruhan isi kitab.
5. Teori Ineransi
            Ada beberapa macam teori "ineransi" yang diajukan.
a. Ineransi Penuh (Full Inerancy)
            Alkitab bukanlah kitab ilmiah atau pun sejarah. Oleh karena itu, tidak dituntut ketepatan yang empiris. Dengan mengerti konteks dan latar belakang budaya kemungkinan besar ketidaktepatan belum tentu suatu kesalahan.
b. Ineransi Mutlak (Absulute Inerancy)
            Semua data di dalam Alkitab adalah benar, termasuk hal-hal yang berkaitan dengan kebenaran ilmiah dan sejarah. Kebenaran Alkitab seharusnya juga dapat dibuktikan dari semua sudut termasuk ilmiah dan sejarah.
c. Ineransi Terbatas (Limited Inerancy)
            Kebenaran Alkitab dapat dibuktikan hanya dari segi doktrinnya yang berhubungan dengan keselamatan. Jika ada kesalahan data yang lain, tidak apa-apa karena itu tidak menjadi kepentingan Alkitab.
d. Pandangan Reformator
            Pandangan "ineransi" Alkitab tidak dapat dipisahkan dengan inspirasi. Jika firman Allah diberikan oleh Allah, maka itu tidak mungkin tunduk pada kekeliruan manusia. Memang diakui ada masalah-masalah dalam Alkitab yang sampai sekarang belum dapat dipecahkan, tetapi hal itu belum cukup membuktikan bahwa Alkitab bersalah. Kebenaran ini mencakup ajaran (doktrin), pola hidup (etika), atau pun peristiwa-peristiwa yang terjadi (sejarah).
Dengan demikian, kita memercayai ineransi Alkitab karena Alkitab diilhamkan oleh Allah yang sempurna. Kesempurnaan Allah atau sifat-sifat Allah menjamin bahwa kata-kata Alkitab tidak mengandung kesalahan dan sempurna di dalam autografnya.
e. Bagaimana dengan Bagian-bagian Alkitab yang Dipermasalahkan?
            Dalam hal Alkitab yang "ineransi", kaum Injili berpegang pada suatu "komitmen teologi", yaitu kepercayaan terhadap keyakinan iman yang dipegang sebagai ketaatan kepada pribadi dan ajaran Alkitab. Kepercayaan ini tidak dibangun secara empiris (berdasar pengalaman) juga bukan sebagai hasil penelitian dari naskah asli. Oleh karena itu, setiap kesulitan yang ditemui harus diteliti dan dipelajari dengan tunduk pada otoritas Allah.

Jawaban atas bagian-bagian Alkitab yang masih sering dipermasalahkan.
6. Satu peristiwa tidak harus selalu diceritakan dengan istilah/cerita yang sama oleh dua penulis yang berbeda (contoh: Lukas 6:17; Matius 5:1).
7. Kutipan kata tidak harus sama persis, yang penting kebenarannya (contoh: Hal tentang kesaksian Paulus dari Kisah Para Rasul 9:7; 22:9).
8. Istilah teknis ilmiah tidak dikenal pada zaman/budaya/waktu itu
(contoh: Matius 5:1 dengan Lukas 6:17: Markus 10:45 dengan Lukas 18:35).
9. Tidak setiap perbedaan berarti kesalahan. Masalah yang belum terjawab tidak harus diartikan kesalahan (contoh: - pembulatan perhitungan hari, jam, dll.).
Kisah kematian Yudas dari Matius 27:5 dan Kisah Para Rasul 1:18.
10. Periode penyataan tidak semuanya sama, tergantung konteksnya.
11. Hal berikut ini juga perlu diingat.
Kebiasaan/budaya Timur (Yahudi dan Palestina) tidak sama dengan budaya sekarang.
Tidak menentang, maka tidak berarti salah. (blm jelas maksudnya)



Pengertian/Definisi
            Kejelasan Alkitab diartikan bahwa Alkitab ditulis sedemikian rupa sehingga jelas maksud pemberitaan dan pengajarannya, sehingga dapat dimengerti oleh setiap orang yang sungguh-sungguh membaca dan mencari pertolongan Tuhan serta bersedia melakukan firman Tuhan itu. Namun demikian, tidak berarti bahwa semua bagian Alkitab akan dapat dimengerti dengan mudah. Tidak juga berarti bahwa setiap orang akan mengertinya dengan benar. Tetapi benar bahwa untuk mengerti isi Alkitab dengan benar seseorang harus memiliki persyaratan moral dan rohani tertentu (1 Korintus 2:14). Juga, ada kemungkinan bahwa seseorang dapat mengerti satu bagian Alkitab dengan lebih jelas daripada orang lain (2 Petrus 3:16).
Kesulitan manusia untuk mengerti/menafsirkan isi Alkitab seringkali dikarenakan pikiran manusia yang dibutakan oleh dosa, bukan karena kemampuan intelektual mereka. (1 Korintus 1:18-3:4; Ibrani 5:14; 2 Petrus 3:5).
Bagaimana kita bisa mengerti atau menafsirkan isi Alkitab secara jelas, benar, dan tepat?
. Hanya dalam terang Roh Kudus-lah manusia dapat mengerti firman Tuhan dengan benar dan tepat (Efesus 3:4, 5; 1 Korintus 2:12, 13; Yohanes 14:26; 16:13-15; 2 Petrus 1:21).
a. Memunyai motivasi yang benar, tidak untuk kesombongan, keserakahan, kepentingan diri sendiri, dan tidak kurang iman (tidak percaya) (Lukas 24:25; 2 Korintus 4:3-4).
b. Memunyai pengetahuan dan keterampilan yang cukup untuk menafsirkan. Dengan menerapkan prinsip-prinsip menafsirkan yang sehat dan mengembangkannya sebagai keterampilan, maka kita akan dapat menafsirkan dengan baik. Sarana-sarana untuk penafsirkan juga sangat berpengaruh dalam mendapatkan data yang lengkap.
Keharusan (Necessity)
Pengertian/Definisi
Keharusan Alkitab berarti bahwa Alkitab benar-benar diperlukan secara mutlak untuk mengenal Kristus supaya kita dapat diselamatkan. Hanya Alkitablah yang memberitakan kebenaran Kabar Baik tentang Kristus (Roma 1:16). Penekanannya bukan pada keperluan untuk mengenal sifat-sifat umum Allah, melainkan secara khusus untuk memelihara kehidupan rohani dan untuk mengetahui kehendak Allah.
Bukti-Bukti Keperluan Mutlak Alkitab
Roma 10:13-17: Agar manusia dapat diselamatkan, mereka harus mendengar firman Injil Yesus Kristus. Kisah Para Rasul 4:12: Tidak ada keselamatan di luar Kristus. 1 Timotius 2:5-6: Tidak ada Pengantara lain selain Yesus Kristus untuk menjadi Pendamai antara manusia dengan Allah.
Kesimpulan: karena Alkitab adalah satu-satunya sumber untuk mengenal Kristus; Injil yang memunyai kuasa untuk menyelamatkan, maka manusia harus membaca Alkitab atau mendengar dari orang lain, firman yang ada di dalam Alkitab.
Kecukupan (Sufficiency)
Pengertian/Definisi
Kecukupan Alkitab memiliki arti bahwa Alkitab berisi semua firman Allah yang dibutuhkan oleh orang percaya untuk keselamatannya dan untuk hidup di dalam keselamatannya, sehingga tidak diperlukan lagi tambahan "penyataan" lain di luar Alkitab. Dengan demikian, kita percaya bahwa Alkitab adalah cukup sebagai satu-satunya sumber firman Allah yang diperlukan oleh manusia untuk selamat dan hidup dalam keselamatannya.
Bukti-Bukti Kecukupan Alkitab di Dalam Alkitab
Beberapa ayat di bawah ini menyatakan berbagai bukti kecukupan Alkitab.
. 2 Timotius 3:15-17
a. Yakobus 1:18
b. 1 Petrus 1:23
c. Wahyu 22:18,19
Tidak Pernah Gagal dalam Maksudnya (Efficacy)
Pengertian/Definisi
Maksud dan tujuan Alkitab adalah memberikan berita tentang Allah dan rencana keselamatan-Nya kepada manusia. Dalam menyampaikan beritanya ini, Alkitab tidak pernah gagal mencapai maksudnya, baik untuk orang yang menerima keselamatan ataupun untuk mereka yang menolak. Untuk orang yang diselamatkan, firman Allah memberikan damai sejahtera dan hidup yang kekal, untuk orang yang menolak firman-Nya, Allah menyatakan keadilan-Nya dengan menghukum mereka ke dalam nyala api selama-lamanya.
Bukti-Bukti di Dalam Alkitab
Yesaya 55:11: Firman Allah tidak pernah kembali dengan sia-sia.
Kesatuan (Unity)
Pengertian/Definisi
Alkitab memunyai satu kesatuan isi dan berita, yaitu Allah yang menyatakan diri kepada manusia dalam diri Tuhan Yesus Kristus.
Alkitab adalah "Unik"
Kesatuan Alkitab menunjukkan bahwa Alkitab berbeda dari kitab-kitab yang lain, sangat unik. Mengapa? Berikut ini adalah daftar yang membuktikan bahwa Alkitab itu sangat unik.
. Satu-satunya kitab yang ditulis dalam jangka waktu 1600 tahun dan melibatkan kisah dari 60 generasi.
a. Ditulis oleh kurang lebih 40 penulis dari berbagai kalangan (raja, nabi, nelayan, penulis puisi, orang kaya, petani, ahli filsafat, negarawan, ahli politik, gembala, militer, dokter, dsb.).
b. Ditulis di tempat-tempat yang berbeda (di penjara, di padang belantara, di bukit, di istana, di pulau terpencil, dsb.).
c. Ditulis dalam zaman, waktu, tempat (tiga benua), dan keadaan yang berbeda-beda.
d. Ditulis dalam tiga macam bahasa (Ibrani, Aramic, Yunani).
e. Buku yang paling jujur menceritakan semua kebaikan dan kejelekan sifat manusia.
f. Buku yang berisi nubuatan dan yang kebenaran nubuatannya sudah terbukti.
g. Alkitab juga adalah buku yang dapat bertahan melalui waktu, penganiayaan, kritikan, pengrusakan, dll..
h. Alkitab adalah buku pertama yang diterjemahkan berulang-ulang, dalam jumlah bahasa yang terbanyak, dan sudah disebarkan ke seluruh penjuru dunia.




KESIMPULAN
Alkitab adalah perkataan Allah, atau buah pikiran Allah yang dituangkan dalam tulisan untuk dibaca dan melaksanakan apa yang ditentukan dalam Alkitab. Jadi Alkitab  yang harus menjadi tolak ukur dalam setiap hidup orang percaya.

Sunday, September 8, 2019

Nabi-nabi basar dan Nabi -nabi kecil


Ø  Nabi-nabi besar antara lain : Yesaya , Yeremia, (menulis kitab Yeremia dan Ratapan), Yehezkiel, dan Daniel.
Ø  Nabi-nabi kecil antara lain : Hosea, Yoel, Amos, obaja, yunus, Mikha, nahum, habakuk, zefanya, hagai, zakharia, dan maleakhi. Beberapa di antara nabi-nabi hidup pada zaman yang sama, contohnya Hosea,Amos, dan Mikha sezaman dengan Yesaya  
NABI-NABI BESAR

                                 I.     YESAYA
Nabi Yesaya adalah salah satu abdi Allah yang memulai pelayanannya pada     tahun 740 sM – 681 sM. Nabi Yesaya mati 100 tahun sebelum pembuangan orang Yehuda ke Babel terjadi. Dalam pelayana-Nya ia berbicara mengenai pemulihan Tuhan atas segalah sesuatu yang diciptakan.
Yesaya tak hanya memanggil yehuda untuk kembali pada perjanjian Daud ( II Samuel 7), tetapi juga kembali ke tujuan awal dari perjanjian Abraham (Kej, 12:1-3), Yaitu Allah memilih Israel untuk dunia (Kel.19:5-6). Berita yesaya menyatakan pemerintahan universal Yahweh, bahwa Allah tidak hanya akan mengembalikan orang Israel, tetapi akan memperluas rencana penebusan Allah ke seluruh dunia melalui pemulihan kerajaan Daud oleh Mesias.

                         II.            Yeremia
            Yeremia adalah seorang Lewi. Ia berasal dari Anatot di tanah Benyamin, ayahnya bernama Hilkia, seorang Imam, Yeremia merasa lemah dan tidak mampu melayani, Yer 1:6 “Ah, Tuhan Allah! sesungguhnya aku tidak pandai berbicara, sebab aku ini sangat muda.” Yeremia terbuka dengan perasaannnya, Yer 4:19 “Aduh, dadaku! Jantungku berdebar.” Yeremia seorang yang lemah lembut dan peka (Yer, 8:18;9:1;20:14-18). Yeremia pun mengalami kesulitan dalam melaksanakan tugas ;
Ø  Ada kelompotan untuk membunuh Yeremia (Yer, 11:18)
Ø  Yeremia dilemparkan ke dalam penjara oleh pasyur, oleh seorang imam (Yer, 20:3)
Ø  Pangeran-pangeran Yehuda berkomplot untuk membunuhnya (Yer, 26:10)
Ø  Yeria melempar Yeremia ke dalam penjara (Yer, 37:14)
Ø  Yeremia dilemparkan ke dalam perigi/sumur yang berlumpur (Yer,38:6).
Tugas utama dalam pelayanan Nabi yeremia yaitu memberitakan tentang hukuman bagi bangsa yang tidak bertobat. inilah berita penghakiman yang disampaikanTuhan kepada Kerajaan Yehuda & Yerusalem :
Ø  Hukuman karena mengabaikan Allah
Ø  Hukuman karena Ibadah yang menyimpang
Ø  Hukuman karena melanggar Perjanjian
Ø  Firman Tuhan di masa kekeringan
Ø  Tujuan penghakiman
Ø  Perumpamaan Yeremia
Ø  Penghakiman atas pemimpin rohani dan pemerintah
Baik Yesaya maupun Yeremia banyak bercerita tentang pembuangan umat Allah dan kembalinya mereka ke Israel. Tetapi tidak semua nubuatan digenapi saat kepulangan mereka dari pembuangan di bawah pimpinan Ezra dan Nehemia.
                      III.            Yehezkiel
Yehezkiel adalah seorang Imam, anak Busi, dari bani zadok  (Yeh,1:3;40:46;44:15). Yehezkiel tinggal di Yehuda sampai umur 25 tahun. Pada masa remajanya ia dipengaruhi oleh pembaruan raja Yosia dan Nubuatan Yeremia. Yehezkiel  di panggi menjadi nabik ketika ia berumur 30 tahun dan tinggal di babel bersama-sama dengan para buangan lainnya (Yeh,1:1). Yehezkiel di tugaskan menjadi penjaga/gembala atas orang-orang buangan (pasal 2:3). Jadi 3 diemban Yehezkiel yakni sebagai Imam, nabi dan gembala.
Bagian utama dalam pemberitaan Yehezkiel yaitu :
Ø  Yehezkiel berbicara mengenai malapetaka atau penghakiman
Ø  Disampaikan sebelum kejatuhan Yerusalem, berisi nubuat malapetaka atas Yehuda dan Ibukotanya Yerusalem. (Yeh,1-24).
Ø  Disampaikan setelah kejatuhan (Yeh, 25-32)
Ø  Yehezkiel berbicara juga mengenai pengharapan (pemulihan)

                      IV.            Daniel
Nabi daniel melayani di babel. Tahun 605 sM Daniel sudah ada di Babel. Dia masih hidup saat tahun 538 sM Israel dipulangkan dari Babel, hanya saja Daniel  tua untuk ikut dalam pemulangan tersebut. Karena diperkirakan Daniel men ulis kitab ini tahun 530 sM , maka masa pelayanan Daniel kira-kira 70 tahun atau lebih.
Tema utama dikatakan dalam Daniel 4:17 “ Supaya orang-orang yang hidup tahu, bahwa yang maha berkuasa atas kerjaan manusia dan memberikannya kepada siapa yang menghendaki-Nya.” Tuhan Allah berdaulat atas raja-raja dan melakukan apa yang Dia kehendaki.
            Nabi Daniel diangkut ke Babel pada pembangan pertama yang terjadi tahun 605 sM. Daniel melayni dibawah Nebukadnezar (Babel), (Ewil- Merodakh (Babel), Neriglisar (Babel), Labasi-Marduk (Babel), Nabonidus (Babel), Balyazar (Babel), dan Koresy (persia).   
Mengenai akhir zaman  kitab Daniel merupakan kitab nubuatan, dalam bentuk lain dari pada yang lain, berisi gambar-gambar dan lambang, kitab itu terutama berkenaan dengan akhir  yang aman. Dalam hal ini serupa dengan wahyu, tetapi harus juga dibandingkan dengan Markus 13, Matius24 dan Lukas 21. Ada orang yang menertawakan nubuatan dan menolak pendapat mengenai Wahyu, akhir zaman yang penuh bencana. Segala sesuatu berjalan seperti sedia kala (2 Pet, 3:1-13). Ada pula yang ingin tahu lebih banyak dari pada yang diperbolehkan, dan mencoba untuk menentukan waktu yang tepat kapan akhir zaman itu akan tiba.
            Dalam keseluruhan kitab kita merasa kehadiran Allah bersama umatnya, berbagi rencana dengan mereka. Itu yang menjadi pelajaran yang harus diajarkan oleh Musa kepada orang buangan mesir. Mereka telah mendarita dan telah pula berdoa, tetapi Allah tidak menyelamatkan mereka. Allah berkata kepada Musa : “Aku telah memperhatikan dengan sungguh kesengsarahan umat-Ku di tanah mesir, da aku telah mendengar seruan mereka yang disebabkan oleh pengarah-pengarah mereka, ya, Aku mengetahui penderitaan mereka. Sebab itu Allah telah turun untuk melepaskan mereka..” (Keluaran 3:7-8).
Pengetahuan Allah yang sempurna mengenai hari depan (Dan 9 :20-27)
a.      Pengantar wahyu (Dan 9:20-23)
Daniel sedang berdoa; tidak meminta sesuatu atau ingin mengetahui masa depan; tetapi ia mengakui segala kesalahannya; meluruskan hubungannya dengan Allah. adalah hak Allah apakah Dia mau memberitahukan apa yang terjadi di masa depan ataukah tidak. Waspada terhadap tanda-tanda zaman itu perlu, tetapi kita tak perlu mereka-reka atau mengira-ngira kapan Kristus datang. Tus kita adalah memelihara hubungan dengn Allah.
(9:24)

Bagaimana Kita Bertumbuh ?

Efesus 4 : 15a.  tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala. 

 Allah ingin kita bertumbuh.
Tujuan Bapa Surgawi kita ialah agar kita menjadi dewasa dan mengembangkan karakteristik yang dimiliki Yesus Kristus. Sayangnya, jutaan orang Kristen bertambah tua tetapi  tidak pernah bertumbuhMereka tertahan sebagai bayi rohani yang terus-menerus, tetap dalam pakaian dan sepatu bayi. Sebabnya adalah karena mereka tidak berkeinginan untuk bertumbuh.
Pertumbuhan rohani tidaklah otomatis. Dibutuhkan komitmen yang terencana. Kita harus mau bertumbuh, memutuskan untuk bertumbuh, dan melakukan upaya untuk bertumbuh, serta terus bertumbuh dalam pertumbuhan. Pemuridan, yaitu proses menjadi serupa dengan Kristus, selalu dimulai dengan sesuatu keputusan. Yesus Memanggil kita, dan kita menanggapi : "Ia berkata kepadanya: Ikutlah Aku. Maka berdirilah Matius lalu mengikuti dia."
pada saat murid-murid pertama memilih untuk mengikuti Yesus, mereka tidak memahami semua implikasi dari keputusan mereka. Mereka hanya menanggapi undangan Yesus. Itulah saja yang kita butuhkan untuk memulai: putuskan untuk menjadi seorang murid. yang paling kuat membentuk kehidupan kita adalah komitmen-komitmen yang kita buat atau menghancurkan kita, tetapi bagaimanapun, komitmen kita akan menemukan keadaan kita.
(Sekian, Edisi Pertama)

Tuhan Yesus Memberkati 😇












Taatilah Peraturan Pemerintah




 Taatilah Peraturan Pemerintah
Nats     :   Roma 13 : 1-7

Pendahuluaan


Ada banyak hal yang sering terjadi dalam kehidupan kita, karena kita tidak memposisikan diri kita pada posisi yang benar,  setiap orang pastinya mempunya hak,  iya benar, tetapi apabila kita berada dalam suatu lembaga atau suatu komunitas, hak kita akan ambil Alih , sebab 
kewajibanlah yang akan menjadi sasaran utama dalam suatu lembaga tersebut.

Membaca ayat ? ROMA 13 : 1-7

Maksud dan tujuan penulisan : Dalam pembacaan kita rasul paulus memberikan nasehat kepada orang percaya yang ada di Roma pada saat itu, untuk memiliki sikap kepatuhan kepada pemerintah. Karena orang percaya yang berada di Roma pada saat itu sedang mengalami tekanan  dan penderitaan  di bawah pemerintahan Roma. Begitu pula dengan orang percaya pada zaman ini, sebagai warga negara kita harus menundukan diri pada pemerintah.

Dua alasan yang di ungkapkan Paulus  dalam hal ini, yaitu :
·         Tidak ada pemerintah yang tidak berasal dari Allah.
Orang Percaya harus mengakui bahwa semua pemerintahan berasal dari Allah dan direncanakan oleh Allah.  Pemazmur Berkata : ALLAH memerintah sebagai raja atas bangsa-bangsa, Allah bersemayam di atas takhta-Nya yang kudus ( mzmr 47 : 9)

·         Pemerintah yang ada ditetapkan oleh Allah.
Setiap orang juga harus percaya dan mengetahui bahwa semua pemerintah ditetapkan Oleh Allah.  Segala kekuasaan ditetapkan oleh Allah, sebab Allahlah yang mempunyai kekuasaan tertinggi. Kita bisa melihat kisah dimana Tuhan Yesus  ketika berada di hadapan Pilatus, apa Jawaban Tuhan Yesus ketika di tanya oleh Pilatus??.( Yohanes 19 : 10-11).  Karena itu Dalam hikmat-Nya, Allah mengangkat  dan mendudukan  orang-orang dalam kekuasaan pemerintahan untuk menggenapi  rencana Allah.


POINT !!!
Ø  Mengapa kita harus Taat pada aturan Pemerintah ?
·         Karena pemerintah Adalah Hamba Allah ( ayat 4 )
PemerintahAdalah hamba Allah, pemerintah mempunyai kekuasaan, tetapi ia sendiri berada di bawa kuasa Allah. Jadi dalam bagian ini
Pemerintah Adalah :  * Hamaba Allah
·         Menyandang pedang untuk keadilan
·         Untuk membalaskan Murka Allah atas mereka yang berbuat jahat
Pemerintah menyandang pedang. Karena mereka mempunyai kuasa untuk melakukan penghukuman. Allah mendirikan pemerintah dan memberikan pedang karena Manusiaberdosa dan berbuat dosa. Oleh sesab ituAllah memberikan pedang kepada pemerintah untuk melaksankan murka Allah .


Ø  Apakah yang harus kita perbuat ?
·         Lakukanlah kewajiban kita sebagai warga negara (ayat 3)
Jika warga negara taat kepada pemerintah dan melakukan apa yang baik , iya tdk perlu takut kepada pemerintah. Nyatanya, para pemimpin negara memerintahkan semua warga negara melakukan yang baik dan perbuatan yang baiklah yang akan mendatangkan pujian. Itulah yang rasul petrus katakan ( 1 Petrus 2 : 13-14 )
               

Kesimpulan

Kerjakanlah kewajibanMu sebagai Murid Tuhan, dan Taattilah Pemimpin-pemimpinMu.
Maka Allah akan Memberkati Engkau sesuai Dengan FirmanNya.

TUHAN YESUS MEMBERKATI  😇



KEBENARAN YANG SEJATI

KEBENARAAN YANG SEJATI

Filipi 3 : 1-16

Ada banyak hal yang terjadi dalam kehidupan kita jika kita tidak mendasarkan hidup kita di dalam kebenaran .  Mengapa demikian ? Sebab  hidup didalam kebenaran akan membawah kita kepada suatu tujuan yang pasti.
Rasul Paulus dengan tegas memberikan Nasehat kepada jemaat di filipi, agar mereka bertindak hati-hati  dan berpegang pada kebenaraan. Karena  adanya ajaran-ajaran sesat  yang menyesatkan jemaat pada saat itu, Sehingga rasul paulus memperingati mereka  untuk selalu berada dalam kebenaran  dan rasul paulus juga mengajak jemaat di filipi untuk mengikuti teladan dari paulus sendiri sebagai orang percaya.
HAL YANG PERTAMA YANG PERLU KITA PELAJARI  ADALAH :
1.      WASPADA TERHADAP GURU2 PALSU (3:1-3)
Rasul Paulus bergembiralah karena  mendengar tentang  mereka sudah bersatu di dalam  Tuhan.  Sehingga  ia menasehati agar mereka berhati-hati supaya jangan di sesatkan.

 Rasul Paulus tidak segan-segan mengulangi peringatan terhadap orang-orang Yahudi Kristen yang suka menurut Taurat, dan mewajibkan orang-orang lain supaya hidup menurut Taurat. Dalam ayat dua Rasul Paulus tiga kali menggunakan kata hati-hatilah.  Coba sodarah memperhatikanNya.

Hati-hatilah terhadap anjing-anjing, terhadap pekerja-pekerja yang jahat, terhadap penyunat-penyunat yang palsu. Dengan ketiga perkataan itu dimaksudkan untuk orang-orang Yahudi Kristen yang suka menurut Taurat.
Dan Tanggung jawab Rasul Paulus sebagai seorang pemberita injil, Paulus meminta orang-orang di Filipi supaya berhati-hati terhadap orang-orang Yahudi Kristen yang suka menurut Taurat.

Mereka ingin supaya semua orang Kristen disunat. Mereka ingin  meniadakan pekerjaan Kristus di atas kayu salib, seolah-olah pekerjaan Kristus tidak sempurna dan harus ditambahi dengan perbuatan kita untuk mendapat keselamatan Hal itu adalah kebencian kepada Rasul Paulus sebab ia mengetahui apa yang  di kerjakan Yesus di atas kayu salib itu sempurna dan cukup bagi keselamatan kita yang percaya kepada Dia.


Itulah sebabNya  Rasul paulus memperingati jemaat filipi pada saat itu,
Bugitu pula dengan kita saat ini kita harus berjalan dalam kebenaran tidak peduli dengan apa yang di katakan orang, 

Ø  Bagaimana Caranya agar kita dapat melangkah dalam kebenaran ?

Alkitab dengan tegas berkata :
Hendaklah engkau selalu mengingatkan mereka akan hukum-hukum ini, dan engkau sendiri harus merenungkannya siang malam serta menjaga supaya engkau menaati semuanya. Dengan demikian engkau akan diberkati dan selalu berhasil.  
Yang menjadi patokan kita adalah Firman Allah, Walau Firman Tuhan ini ditulis ribuan Tahun lalu, tetapi Firman Tuhan ini masih relevan bahkan sampai selama-lamanya.  Tuhan Yesus ketika ia menasehati murid2nya dalam (Mat 24:35__ ia berkata : Langit dan bumi akan berlalu tetapi perkataan ku tidak akan berlalu.

2.     Jangan Percaya akan kebenaran diri sendiri (4-6)

di sini rasul paulus dengan tegas  mengemukakan bukti-bukti kebenaranNya,
Paulus berkata bahwa aku mempunyai dengan kelimpahan dalam menaati hukum Taurat, bahkan lebih banyak dari mereka, apa yang sedang mereka turut yaitu syarat-syarat di luar saja. Rasul Paulus juga mulai memberitahukan apa yang dapat dibanggakan kalau ia mau, yaitu klauw ia mau membanggakan perbuatannya didalam tubuh.
Tetapi, apa yang di katakan paulus?  Paulus berkata aku mau bermegah didalam Kristus. Ia bersukacita dan inilah yang menjadi suatu tujuan dari paulus. Yaitu menghilangkan segala hal:  Bangga akan diri sendiri, perbuatan amal ibadah , paulus melupakan semua yang pernah ia perbuat, Maka dengan itu Paulus meniadakan segala pengajaran orang-orang sesat yang ingin menambahkan Hukum Taurat kepada pekerjaan Kristus, yang datang untuk menyesatkan jemaat di filipi..

Begitu pula dengan kita, Marih kita melupakan perbuatan kita yang jahat, yang tidak menyenangkan Tuhan. kita harus tanggalkan segala sesuatunya.  Dan mengarahkan pandagan kita Kepada Allah yang dasyat itu yang penuh dengan hikmat dan kebijaksanaan yang kita panggil Bapa  dalam Kristus Yesus Tuhan.  Yang bangit dari Antara orang mati.  Pandang terus padanya , turuti perintahnya. Maka Ia akan meluruskan jalan kita.





3.     Kehidupan yang mengejar kesempurnaan ( ayat 13-14)

Paulus berkata, dia mengarahkan diri kepada apa yang di hadapannya, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah. Banyak orang berpkir bahwa orang Kristen hanya perlu percaya dan itu sudah cukup, tidak perlu mengejar imbalan.
Paulus malah berbuat yang sebaliknya, dia tidak sekadar meminta pada Allah untuk memberikan hadiah kepadanya, tetapi dia melakukan segala yang mungkin untuk mengejar apa yang di depannya, dengan tujuan untuk memperoleh hadiah dari Allah.
Paulus mengerahkan segala kekuatannya untuk memperoleh kesempurnaan, karena hanya orang yang demikian dapat memperoleh Kristus. Paulus tidak sedang mengejar suatu ideal yang merupakan sebuah ilusi, tapi dia mengejar keserupaan dengan Kristus, dalam setiap hal mencerminkan karakter Kristus, dengan tujuan supaya dia dapat menjalin hubungan yang akrab dengan Yesus.


 Karena itu mari kita mengejar keserupaan dengan Kristus, Mencerminkan karakter Kristus di setiap hidup kita. Mari kita terus hidup sebagai angkatan orang benar, kebenaran telah menjadi barang langka. Tetapi jika kita mau  terus hidup di dalamnya
Dan memberitakanNya, maka Roh Kudus akan memberikan keberanian dan kekuatan sampai kita tiba di Rumah Bapa.

Tuhan Yesus Memberkati 😇🙏



SOTERIOLOGI


 IMAN YANG MENYELAMATKAN
 “Jadi apakah akan kita katakan tentang Abraham, bapa leluhur jasmani kita? Sebab jikalau Abraham dibenarkan karena perbuatannya, maka ia beroleh dasar untuk bermegah, tetapi tidak di hadapan Allah. Sebab apakah dikatakan nas Kitab Suci? “Lalu percayalah Abraham kepada Tuhan, dan Tuhan memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.” Kalau ada orang yang bekerja, upahnya tidak diperhitungkan sebagai hadiah, tetapi sebagai haknya. Tetapi kalau ada orang yang tidak bekerja, namun percaya kepada Dia yang membenarkan orang durhaka, imannya diperhitungkan menjadi kebenaran” (Romans 4:1-5).


  1. SESUNGGUHNYA MANUSIA TIDAK DAPAT DISELAMATKAN OLEH KEBENARANNYA SENDIRI


Namun, Rasul Paulus berbicara dengan terus terang kepada mereka bahwa  manusia tidak dapat diselamatkan dengan semua itu, ada cara lain agar manusia dapat diselamatkan, karena tak seorangpun dapat dibenarkan di hadapan Allah dengan kesucian dan perbuatan baiknya sendiri, karena sesunggugnya manusia tidak dapat mencapai kesucian dan kebajikan menurut standard Tuhan. Untuk mengilustrasikan kebenaran ini Paulus memberikan contoh tokoh besar dalam Alkitab yang ia kenal, yaitu Abraham, sahabat Allah, bapa dari semua orang beriman, dan bapa dari bangsa Israel.
Dan Paulus menulis, “Sebab jikalau Abraham dibenarkan karena perbuatannya, maka ia beroleh dasar untuk bermegah, tetapi tidak di hadapan Allah,” karena Allah mengenal dia.  Abraham dapat menyombongkan diri di hadapan kita. Ia dapat menyombongkan diri di hadapan teman-temannya dan semua orang yang ia kenal, namun ia tidak dapat menyombongkan diri di hadapan Allah. Allah mengenal betul kehidupannya secara intim. Lihatlah bahkan perbuatan baik dari orang kudus terbesar ini pun tidak dapat membuatnya berkenan di hadapan Allah, sehingga berdasarkan itu Allah harus menyelamatkannya.

Sebagai contoh dalam Kejadian 12 diceritakan tentang Abraham ketika ia berbohong kepada Firaun berhubungan dengan Sara, istrinya. Empat pasal berikutnya, dalam kejadian 16 diceritakan bahwa Abraham menikahi Hagar, budaknya yang dibawa dari Mesir. Dan dari hubungan ini melahirkan Ismael, pendiri dari bangsa- bangsa Arab. Kemudian, empat pasal berikutnya diceritakan kisah tentang Abraham yang berbohong lagi kepada Abimelekh berhubungan dengan Sara, istrinya. Jika Abraham dibenarkan oleh perbuatan-perbuatannya, ia dapat memuliakan dirinya sendiri dan membual: “Lihatlah aku. Aku yang telah melakukan semuanya ini.” Namun, Paulus berkata, “Tidak di hadapan Allah.” Allah mengenal Abraham dengan baik. Ia mengetahui semua kelemahan dan pelanggaran-pelanggaran dan kesalahan-kesalahan serta semua kegagalan hidupnya. Perhatikan, bahkan Abraham, tokoh terbesar ini pun tidak dapat berkenan di hadapan Allah dengan usahanya sendiri.
Oleh sebab itu Rasul Paulus berbicara dengan terus terang bahwa harus ada jalan lain agar manusia dapat diselamatkan. Dan ia menemukan jawaban bagaimana Abraham diselamatkan. Dalam Kejadian 15:6 dikatakan, “Lalu percayalah Abram kepada TUHAN, maka TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.” Ia diselamatkan di dalam anugerah dan rahmat Tuhan. Ia diselamatkan oleh karena ia percaya kepada Tuhan. 


2. KESELAMATAN HANYA OLEH KARENA IMAN DI DALAM KRISTUS

Seperti Rasul Paulus menuliskan ini dalam Roma pasal empat, “Tetapi terhadap janji Allah ia tidak bimbang karena ketidakpercayaan, malah ia diperkuat dalam imannya dan ia memuliakan Allah” (Roma 4:20) – ia tidak memuliakan dirinya sendiri, tetapi ia memuliakan Allah, dan tanpa bimbang ia mempercayai apa yang Allah telah janjikan kepadanya, dan malah ia diperkuat dalam imannya, dan oleh imannya itu, kebenaran diimputasikan kepadanya. Kebenaran yang ia kenakan bukanlah kebenarannya sendiri, bukan kebenaran yang ia usahakan sendiri, tetapi itu adalah kebenaran Allah yang diimputasikan atau dikenakan kepadanya oleh karena imannya: yaitu bahwa dia diselamatkan oleh iman, oleh karena percaya. Dan imannya diperhitungkan sebagai kebenaran, dan dia diselamatkan di dalam anugerah dan pengampunan Allah.
Demikian juga Rasul Paulus berkata terus terang kepada kita. Kita tidak dapat diselamatkan dengan usaha kita sendiri atau membayar hutang dengan perbuatan-perbuatan kebajikan dan kebenaran kita sendiri, karena sesungguhnya kita tidak akan pernah dapat memenuhi standard kebajikan dan kebenaran yang dituntut oleh Tuhan. Kita bukanlah orang suci, bukanlah orang baik, bukanlah orang benar.
Tuhan menuntut kesempurnaan jika kita mau masuk ke kota suci nan indah, yaitu sorga dan memandang wajah-Nya. Namun, jika kita pernah melakukan pelanggaran dan dosa di suatu waktu dalam hidup kita, kita sudah kehilangan kesempurnaan itu. Yakobus, saudara Tuhan Yesus, yang menjadi gembala di Yerusalem menuliskan itu di dalam suratnya, yaitu Yakobus 2:10: “Sebab barangsiapa menuruti seluruh hukum itu, tetapi mengabaikan satu bagian dari padanya, ia bersalah terhadap seluruhnya.” Ia telah bersalah terhadap seluruhnya, artinya ia kehilangan dan tidak akan mencapai kesempurnaannya.
Ini sama seperti lampu atau kandil yang digantung pada rantai. Anda tidak perlu memutuskan setiap mata rantai. Jika Anda memutuskan salah satu mata rantai saja, maka lampu itu akan jatuh dan hancur. Demikian juga dengan hidup kita. Kita dapat hidup benar dan suci dalam setiap area hidup kita, namun jika kita berdosa, kita telah berada di bawah penghukuman maut: “Jiwa yang berdosa pastilah mati,” dan “upah dosa adalah maut.” Rasul ini berkata terus terang bahwa tak seorangpun yang dapat dibenarkan – diperhitungkan benar, dapat diselamatkan dengan pencapaian pekerjaan atau perbuatan kebajikannya sendiri.
Ada orang yang sangat kuat di kota ini. Ia mampu menghancurkan hidup orang lain berkeping-keping.

Saya pergi menemui dia dan mengundang dia untuk memberi diri dilahirbarukan di dalam Kristus Tuhan kita, dan menemukan kekuatan di dalam Dia.
Ia menjawab saya, “Saya dapat menolong diri saya sendiri. Saya tidak perlu Tuhan, dan saya tidak membutuhkan Kristus, dan saya tidak membutuhkan gereja. Saya akan menemukan jawaban di dalam diri saya sendiri.” Akhirnya, ia menyerahkan dirinya sendiri untuk minuman keras, dan akhirnya ia mati bunuh diri.
Tak seorangpun, sekalipun ia mungkin orang yang kuat, yang mampu menghadapi penghakiman. Apa yang ia dapat lakukan pada hari kematiannya? Dan apa yang ia dapat lakukan ketika ia berdiri di depan tahta pengadilan Allah yang Mahatinggi?  Seperti Yesaya berkata, bahwa kebenaran kita adalah “seperti kain kotor” atau “kain lap yang dekil” dalam pemandangan Allah (Yesaya 64:6).
Harus ada cara lain agar kita dapat diselamatkan, dan cara atau jalan keselamatan itu dapat kita atau Abraham temukan melalui percaya kepada Tuhan. Ia percaya kepada Tuhan. Ia menghempaskan dirinya sendiri ke atas rahmat Allah, dan Allah menyelamatkan dia oleh anugerah, oleh karena iman, oleh karena percaya.
Allah memperhitungkan imannya sebagai kekudusan, kebenaran, dan oleh anugerah kita semua diselamatkan melalui iman dan bukan kebenaran atau usaha kita sendiri. Itu adalah karunia atau pemberian Allah, bukan hasil pekerjaan kita, sehingga tak seorangpun dapat berkata atau membual, “Aku telah melakukan semua itu” dan memuliakan dirinya sendiri.
Dan Rasul Paulus menulis bahwa pengampunan, rahmat itu, anugerah itu ditemukan dan didasarkan dalam kasih dan rahmat penebusan Yesus Kristus, Tuhan kita. Ia menulis dalam Roma pasal 5:
Karena waktu kita masih lemah, Kristus telah mati untuk kita orang-orang durhaka pada waktu yang ditentukan oleh Allah. Sebab tidak mudah seorang mau mati untuk orang yang benar—tetapi mungkin untuk orang yang baik ada orang yang berani mati—. Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa. Lebih-lebih, karena kita sekarang telah dibenarkan oleh darah-Nya…(Roma 5:6-9)
Di dalam rahmat dan kematian serta penderitaan Tuhan kita, kita akan diselamatkan melalui Dia, kita diperdamaikan dengan Allah melalui kematian-Nya, kita diselamatkan oleh hidup-Nya yang telah bangkit dari antara orang mati dan pelayanan-Nya sebagai perantara untuk kita dalam kemuliaan. Oleh Dia kita sekarang telah menerima penebusan atas dosa-dosa kita. Bukan lagi “aku.” Tetapi “Dia.” Bukan karena kekuatanku, tetapi di dalam Dia aku diselamatkan melalui percaya, menyerahkan hidupku kepada Dia, menerima dan memandang Dia. Kita diselamatkan oleh karena apa yang Yesus telah lakukan bagi kita!
Paulus menulis surat polemik kepada jemaat-jemaat di Galatia. Mereka telah menemukan keselamatan melalui percaya di dalam Kristus. Mereka telah menerima Roh Kudus, melalui percaya di dalam Yesus. Dan mereka telah hidup dalam hadirat Anak Allah.  Kemudian datanglah orang-orang Yahudi yang berkata kepada mereka, “Baiklah oleh iman. Baiklah oleh karena percaya. Namun kalian tidak dapat diselamatkan hanya oleh iman dan percaya itu. Jika kalian ingin diselamatkan, kalian dapat diselamatkan melalui memelihara dan melakukan hukum Taurat, melaksanakan berbagai aturan, ritual dan seremonial dari Taurat.”
Oleh karena itu lah, maka Paulus menulis surat yang polemik ini kepada orang-orang Galatia itu. Itu adalah surat yang sangat keras.  Dan dengan hanya satu hentakan saja, Rasul Paulus menyapu semua konsep keselamatan yang diduga merupakan hasil dari ketaatan terhadap Taurat atau legalism atau oleh usaha manusia atau oleh karena memelihara upacara-upacara lahiriah atau seremonial lahiriah. Jika manusia diselamatkan, itu hanya oleh karena kasih dan anugerah serta rahmat Yesus Kristus “yang mengasihi saya dan memberikan nyawa- Nya sendiri sebagai tebusan bagi saya.”

Ketika saya membaca Kitab Suci, ada banyak bukti dalam lembaran-lembaran suci ini ketika saya mempelajari dan berusaha memahami pikiran dan rencana Allah bagi kita. Manusia dapat berdoa dan berdoa di sepanjang hidupnya. Namun ketika ia mati, ia masih terhilang. Dalam Matius enam, catatan tentang Khotbah di Bukit, Tuhan mendeskripsikan orang-orang seperti orang Farisi yang suka berdiri di sudut-sudut jalan dan semua orang melihat mereka sedang berdoa. Dan dalam Injil yang sama ini, Tuhan  kita mendeskripsikan orang-orang Farisi yang masuk ke dalam rumah ibadat kemudian berdoa dan mengucap syukur kepada Allah atas semua ketaatannya terhadap semua perintah Allah dalam hidupnya. Dan pada saat yang sama Tuhan juga menceritakan seorang pemungut cukai, orang berdosa, yang pada waktu itu juga sedang berdoa, yang bahkan tidak berani mengangkat wajahnya kepada Allah, namun ia memukul-mukul dadanya dan berkata, ‘Tuhan, ampunilah aku, orang berdosa ini.”
Dan Tuhan berkata, “Orang ini – pemungut cukai yang berdosa ini, pulang ke rumahnya dengan membawa pembenaran – ia dipandang benar oleh Allah, karena ia menyerahkan jiwanya di dalam iman dan percaya kepada Tuhan yang dapat menyelamatkan dia.”
Ambilah Alkitab anda dan mari lihat orang-orang baik yang menghadap Tuhan dan rasul-rasul-Nya. Nikodemus adalah orang baik. Ia adalah anggota dari Sanhedrin. Ia adalah pemimpin bangsa Yahudi. Namun Tuhan berkata kepada dia, “Jika kamu tidak dilahirkan kembali, kamu tidak akan dapat masuk ke dalam kerajaan Allah.”
Kisah Rasul pasal sepuluh menggambarkan Kornelius sebagai orang yang saleh dan takut akan Tuhan dan senantiasa berdoa kepada Allah. Namun seorang malaikat datang kepadanya dan berkata, “Suruhlah beberapa orang ke Yope untuk menjemput seorang yang bernama Simon dan yang disebut Petrus. Ia menumpang di rumah seorang penyamak kulit yang bernama Simon,” untuk menjelaskan bagaimana dia dan keluarganya dapat diselamatkan.
Saya tidak dapat diselamatkan oleh karena kebenaran dan kebajikan saya sendiri. Saya begitu kecil dan kotor di hadapan kemuliaan Allah. Saya harus menghempaskan diri saya sendiri ke atas rahmat Yesus. Dan hanya oleh Dia, hanya Dia sajalah yang dapat memperbaharui dan mengampuni serta menyelamatkan saya.


3. TIDAK ADA CARA LAIN  UNTUK DAPAT DISELAMATKAN SELAIN HANYA MELALUI IMAN DI DALAM KRISTUS

Paulus berbicara dengan terus terang bahwa selain percaya kepada Yesus tidak ada apapun yang dapat kita lakukan. Saya tidak diselamatkan oleh Yesus ditambah dengan kebenaran saya sendiri atau perbuatan baik yang saya lakukan. Saya tidak diselamatkan oleh Yesus ditambah dengan seremonial-seremonial atau ibadah yang saya pelihara dan jalankan. Saya tidak diselamatkan oleh Yesus ditambah dengan baptisan saya, atau percaya Yesus ditambah dengan memelihara hari Sabat, atau saya tidak diselamatkan oleh Yesus ditambah dengan tangisan dan penyesalan saya. Saya tidak diselamatkan oleh apapun kecuali hanya oleh Yesus saja – hanya oleh Yesus, Yesus secara eksklusif, Yesus untuk selama-lamanya, Yesus satu-satunya.
Dan ketika saya berdiri di hadapan Yang Mahatinggi di sorga, inilah lagu yang akan saya nyanyikan, “Segala kemuliaan hanya bagi Anak Domba. Segala kemuliaan hanya bagi Kristus yang telah menyucikan kita dari dosa-dosa kita di dalam darah-Nya sendiri. Bagi Dia kemuliaan dan hormat dan kuasa sampai selama- lamanya dan selama-lamanya. Amin.”

Tuhan Yesus Memberkati 🙏


BIBLE PROPERTIES

BIBLE

The Bible is absolute authority and is the only standard for evaluating and understanding everything (2 Timothy 3: 16-17). The Bible stands as a judge of everything and has never been judged by any other source. Why is that? The answer is, because the Bible is the word of God, then there can be no other authority higher than that. Simply stated, the Bible must be trusted and followed because the Bible is the absolute or true word of God. The Bible is the only authority in every area of ​​life. Here are the facts about the authenticity of God's revelation.

A. Authority
            The whole Bible is the word of God; not believing in or obeying the Bible means not believing or disobeying God. In other words, the Bible holds the highest and final authority on the faith and life of believers because the Bible is a word that comes from God himself.

1. Evidence of the authority of the Bible
            In many passages in the Bible, it says, "Thus saith the Lord ..." These sentences in the Old Testament are identical to the sentence form, "says the King ...." which means a decree that comes from the owner of the highest authority (king ) and cannot be contested, must be carried out (for example: Numbers 22:38; Deuteronomy 18: 18-20; Jeremiah 1: 9). In the New Testament, there are several verses that clearly show that the Old Testament writings are God's word (for example: 1 Timothy 3:16; 2 Peter 1:21). In the New Testament there are also verses that show that the writings in the New Testament are the word of God (for example: 2 Peter 3:16; 1 Timothy 5:18; 1 Corinthians 14:37; John 14:26; 16:13).

2. Acceptance of the authority (authority) of the Bible
            Acceptance of believers in the Bible as God's word is from faith, given by the Holy Spirit, in the renewed human heart. Thus, the acceptance of the authority (authority) of the Bible in the life of a believer is due to faith, not from man himself (cf. 1 Corinthians 2: 13-14; John 10:27).



B. Inerrancy (Biblical Infallibility)


1. Definition / Definition
            In general, "inerrancy" means that the Bible (OT and NT) is all God's word written without error in the original text. The term "inerrancy" is often confused with the term "Infalabiliti", which means that the Bible cannot be misleading because all its teachings are truth (not against moral teachings). Meanwhile, the emphasis on "inerrancy" is the free quality of written errors and data in the Bible. The doctrine of biblical innocence is very important because it will influence other doctrines and Christian ethics. For example, in terms of the doctrine of sin, creation, God, miracles, and salvation. The view of the inerrancy of the Bible will also determine one's views on ethics, marriage, etc ...

2. The Importance of Inerrancy
            It is very important for Christians to hold the belief that the Bible as a whole is not wrong because the Bible is a word that comes from God himself, who is perfect and does not lie. If we do not believe in the innocence of the Bible, then the authority of the Bible is difficult to maintain because it means we cannot fully trust God.

3. Basic Acceptance of Inerrancy
Acceptance of "inerrancy" is not based on human ability to judge the Bible, but based on the belief that:

a. God is the truth. Therefore, everything that God says is true.
b. God never lies. So what he said must be true. (Hebrews 6:18; 2 Timothy 2:13).
c. The Bible itself calls Himself perfect (Psalm 19: 8), pure (Psalm 19: 9), right (Psalm 19: 9), right (Psalm 119: 43), and eternal (Psalm 119: 89; Matthew 24:34 )
d. The Holy Spirit gave full supervision to the authors, so they wrote it correctly, without error.
e. The measure of Bible truth is "arational". Human reason is not the standard size used.

4. What if the original manuscript does not already exist?
            It is admitted that we no longer have the original Bible text. There is only a copy of the original. Written original statements have three categories.
a. The original statement (not a copy) that has been completed is entirely written.
b. The statement of the copy that is rewritten is in accordance with the original (called the original copy).
c. The Bible, canonically, is an organizational unity that cannot be taken from the context of the entire contents of the book.

5. Inerrancy Theory
            There are several kinds of "inerrancy" theories put forward.




Batas karakter: 5000
a. Full Inerrancy (Full Inerancy)
            The Bible is not a scientific or historical book. Therefore, empirical accuracy is not required. Understanding the cultural context and background is most likely that inaccuracy is not necessarily a mistake.
b. Absolute Inerancy
            All data in the Bible is true, including matters relating to scientific and historical truths. Bible truth should also be proven from all angles including scientific and historical.
c. Limited Inerrancy (Limited Inerancy)
            Bible truth can be proven only in terms of its doctrine relating to salvation. If there are other data errors, it's okay because it's not in the interest of the Bible.
d. The view of the Reformer
            The "inerrancy" view of the Bible cannot be separated by inspiration. If God's word is given by God, then it cannot be subject to human error. Admittedly there are problems in the Bible that have yet to be solved, but that is not enough to prove that the Bible is guilty. This truth includes teachings (doctrine), lifestyle (ethics), or events that occur (history).
Thus, we believe in the inerrancy of the Bible because the Bible is inspired by a perfect God. God's perfection or God's attributes guarantee that the words of the Bible do not contain errors and are perfect in the autograph.
e. What about the parts of the Bible that are being blamed?
            In the case of the "inerrancy" Bible, the Evangelicals adhere to a "theological commitment", that is, the belief in faith that is held as obedience to the person and teachings of the Bible. This belief is not built empirically (based on experience) nor is it the result of research from the original text. Therefore, every difficulty encountered must be examined and studied by submitting to the authority of God.

Answers to biblical passages that are still often at issue.
6. One event does not always have to be told with the same term / story by two different authors (example: Luke 6:17; Matthew 5: 1).
7. The quote of the word does not have to be the exact same, the important truth is (example: The thing about Paul's testimony from Acts 9: 7; 22: 9).
8. The scientific technical term is not known at the time / culture / time
(example: Matthew 5: 1 with Luke 6:17: Mark 10:45 with Luke 18:35).
9. Not every difference means error. Unanswered problems do not have to be interpreted as errors (examples: - rounding off days, hours, etc.).
The story of the death of Judas from Matthew 27: 5 and Acts 1:18.
10. The revelation period is not all the same, depending on the context.
11. The following things also need to be remembered.
Eastern customs (Jewish and Palestinian) are not the same as current culture.
Not opposed, it does not mean wrong. (not clear)



Definition / Definition
            Biblical clarity means that the Bible is written in such a way that it is clear the purpose of its preaching and teaching, so that it can be understood by anyone who truly reads and seeks God's help and is willing to do God's word. However, it does not mean that all parts of the Bible will be easily understood. It also does not mean that everyone will understand it correctly. But it is true that to understand the contents of the Bible correctly one must have certain moral and spiritual requirements (1 Corinthians 2:14). Also, it is possible that one can understand one part of the Bible more clearly than others (2 Peter 3:16).
The difficulty of humans to understand / interpret the contents of the Bible is often due to the human mind being blinded by sin, not because of their intellectual abilities. (1 Corinthians 1: 18-3: 4; Hebrews 5:14; 2 Peter 3: 5).
How can we understand or interpret the contents of the Bible clearly, correctly and precisely?
. It is only in the light of the Holy Spirit that man can understand God's word correctly and correctly (Ephesians 3: 4, 5; 1 Corinthians 2:12, 13; John 14:26; 16: 13-15; 2 Peter 1:21).
a. It has the right motivation, not for pride, greed, self-interest, and lack of faith (not believing) (Luke 24:25; 2 Corinthians 4: 3-4).
b. Have sufficient knowledge and skills to interpret. By applying the principles of interpreting the healthy and developing it as a skill, we will be able to interpret it well. The means for interpreters are also very influential in getting complete data.
Necessity
Definition / Definition
The necessity of the Bible means that the Bible is absolutely necessary to know Christ so that we can be saved. Only the Bible preaches the truth of the Good News about Christ (Romans 1:16). The emphasis is not on the need to recognize God's general characteristics, but specifically
to nurture spiritual life and to know God's will.
Absolute Needs Evidence of the Bible
Romans 10: 13-17: For humans to be saved, they must hear the word of the gospel of Jesus Christ. Acts 4:12: There is no salvation outside of Christ. 1 Timothy 2: 5-6: There is no other Intercessor other than Jesus Christ to be a Peacemaker between man and God.
Conclusion: because the Bible is the only source to know Christ; The gospel that has the power to save, then humans must read the Bible or hear from others, the words that are in the Bible.
Sufficiency
Definition / Definition
The adequacy of the Bible means that the Bible contains all the words of God needed by believers for their salvation and to live in their salvation, so there is no need for additional "revelations" outside the Bible. Thus, we believe that the Bible is sufficient as the only source of God's word needed by humans to survive and live in their salvation.
Evidence of the Sufficiency of the Bible in the Bible
Some of the verses below state various proofs of the adequacy of the Bible.
. 2 Timothy 3: 15-17
a. James 1:18
b. 1 Peter 1:23
c. Revelation 22: 18,19
Never Fails in Meaning (Efficacy)
Definition / Definition
The purpose and purpose of the Bible is to give news about God and His plan of salvation to humans. In conveying this message, the Bible never fails to achieve its purpose, both for those who receive salvation or for those who refuse. For those who are saved, the word of God provides peace and eternal life, for those who reject His word, God reveals His justice by punishing them into the flame forever.
Evidence in the Bible
Isaiah 55:11: God's Word never returns in vain.
Unity
Definition / Definition
The Bible has a unity of content and news, namely God who reveals himself to man in the Lord Jesus Christ.
The Bible is "unique"
The unity of the Bible shows that the Bible is different from other books, very unique. Why? The following is a list that proves that the Bible is very unique.
. The only book written in a period of 1600 years and involving stories from 60 generations.
a. Written by approximately 40 writers from various circles (kings, prophets, fishermen, poets, rich people, farmers, philosophers, statesmen, political experts, pastors, military, doctors, etc.).
b. Written in different places (in prison, in the wilderness, on the hill, in the palace, on a desert island, etc.).
c. Written in times, times, places (three continents), and different circumstances.
d. Written in three kinds of languages ​​(Hebrew, Aramic, Greek).
e. The most honest book tells all the goodness and ugliness of human nature.
f. The book that contains prophecy and the truth of the prophecy has been proven.
g. The Bible is also a book that can survive through time, persecution, criticism, destruction, etc ...
h. The Bible is the first book to be translated repeatedly, in the most number of languages, and has been distributed throughout the world.

CONCLUSION
The Bible is the word of God, or the thoughts of God which are written in writing to read and carry out what is specified in the Bible. So the Bible must be a benchmark in every believer's life.

KEKUDUSAN

    (IMAMAT 20 : 7) : “Maka kamu harus menguduskan dirimu, dan kuduslah kamu, Sebab Akulah Tuhan Allahmu. Konteks Historis Ayat ini memiliki...